JAKARTA –
Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) optimis pada
tahun 2013 mendatang mentargetkan penyaluran dana Fasilitas Likuiditas
Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk sekitar 350.000 unit rumah dengan total
anggaran sekitar Rp 2,7 Triliun. Untuk itu, Kemenpera terus berharap adanya partisipasi
aktif dari sejumlah perbankan untuk menyalurkan dana FLPP serta para pengembang
untuk meningkatkan jumlah pasokan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah
(MBR) di Indonesia.
"Kami
targetkan tahun depan penyaluran FLPP untuk 350.000 unit rumah di seluruh
Indonesia. Saat ini sudah ada 6 bank swasta nasional dan 14 bank pembangunan
daerah (BPD) yang telah bekerjasama dengan Kemenpera untuk penyaluran FLPP ini.
Selain bekerjasama dengan perbankan kami juga menggandeng asosiasi pengembang
untuk ikut meningkatkan pasokan rumah untuk masyarakat,” ujar Asisten Deputi Perencanaan
Pembiayaan Perumahan Kemenpera Iwan Nurwanto pada Diskusi Properti bertemakan Kenaikan Patokan Harga Rumah Subsidi, Antara
Jaminan Pasokan Dan Daya Beli Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang
diselenggarakan oleh Forum Wartawan Perumahan (Forwapera) bekerjasama dengan
Bagian Humas dan Protokol Kemenpera di Hotel Ambhara, Jakarta, Selasa (27/11).
Lebih
lanjut, imbuhnya, ke enam bank swasta nasional tersebut antara lain Bank BTN,
Bank BTN Syariah, BNI, BRI dan BRI Syariah, Bank Mandiri. Sedangkan 14 bank
pembangunan daerah yang bekerjsama dengan Kemenpera adalah BPD
Jawa Tengah, BPD NTT,
BPD Jawa Timur Syariah,
BPD Kalimantan Tengah, BPD Sulawesi Tenggara, BPD Papua,
BPD Riau Kepri, BPD Sumatera Utara Konvensional,
BPD Sumatera Utara Syariah,
BPD Kalimantan Selatan,
BPD Sumsel Babel, BPD Jawa Timur, BPD DIY, Bank Nagari, Bank Kalimantan Timur.
Bank BTN (syariah
dan konvensional) memiliki kontribusi yang signifikan sampai dengan
99.2% dari penyerapan FLPP. BTN
(KONVENSIONAL) berhasil
menyalurkan FLPP untuk 144.243 unit rumah senilai Rp 4,9 T dan BTN Syariah
7.629 unit rumah senilai Rp 281,5 Milyar. “Kami harap
bank-bank lainnya juga bisa meningkatkan penyerapan FLPP sehingga lebih banyak
lagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang memiliki rumah yang layak huni,”
tandasnya.
Lebih
lanjut, dirinya menerangkan, dari total 350.000 unit rumah tersebut nantinya
akan terbagi dalam dua KPR. Pertama adalah KPR Rumah Sejahtera Tapak sebanyak 348.500
dan kedua KPR Rumah Sejahtera Susun sebanyak 1.500 unit.
Berdasarkan
data yang dari Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan (BLU), kinerja penyaluran FLPP yang telah
dilaksanakan oleh Kemenpera bersama sejumlah bank penyalur dari tahun 2010
hingga 2012 telah mencapai angka 152.885 unit rumah dengan nilai dana FLPP Rp
5,24 Triliun. Sedangkan hingga pertengahan bulan November 2012, BLU PPP
Kemenpera telah menyalurkan dana FLPP untuk 35.340 unit senilai Rp 1,03 T.
“Kami
targetkan hingga akhir tahun 2012 setidaknya bisa tersalurkan dana FLPP untuk
sekitar 80.000 unit. Hal itu dikarenakan masih ada sekitar 20.000 hingga 22.000
unit rumah hasil konversi KPR FLPP dari Bank BTN,” katanya.
Sementara
itu, Ketua Umum DPP Apersi Eddy Ganefo menyatakan, para pengembang yang
tergabung dalam asosiasi pengembang tetap mendukung program penyaluran FLPP
untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pasalnya kebutuhan rumah terus
meningkat setiap tahunnya. Selain itu, adanya putusan Mahkamah Konstitusi
terkait tidak adanya pembatasan ukuran pembangunan rumah sejahtera diharapkan
bisa mengoptimalkan pasokan rumah untuk masyarakat.
“Kami tetap
mendukung program penyaluran FLPP Kemenpera. Namun demikian, bank-bank di
daerah banyak yang belum memahami dengan baik proses penyalurannya. Kami harap
Kemenpera dan bank penyalur bisa mengintensifkan sosialisasi program ini agar
tidak hanya dipahami oleh bank yang di pusat saja tapi juga bank-bank di daerah,”
tandasnya.
sumber: humas. www.kemenpera.go.id